Senin, 18 September 2017

Jenis-Jenis Kalimat dan Contohnya

Jenis-Jenis Kalimat dan Contohnya



Manusia memiliki kodrat sebagai makhluk sosial, sehingga komunikasi dengan sesama manusia pasti tidak terhindarkan setiap harinya. Salah satu media komunikasi antar perorangan adalah bahasa. Dengan bahasa, manusia mampu menyampaikan pesan, gagasan, kehendak, informasi ke manusia lainnya. Bahasa memiliki berbagai satuan yang menyusunnya. Satuan bahasa terkecil dalam bahasa yang memiliki makna secara utuh adalah kalimat, namun beberapa sumber juga menyebutkan jika bagian terkecil dari bahasa adalah kata atau fasa (kumpulan kata) karena kata dan frasa juga memiliki makna meski tidak utuh. Artikel kali ini akan dibahas mulai dari pengertian kalimat, seluk beluk kalimat, jenis jenis  kalimat dan contohnya.

A. Pengertian Kalimat

Kalimat merupakan satuan terkecil bahasa yang mengungkapkan pikiran secara utuh secara kebahasaan, definisi tersebut diambil dari Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Untuk memaknainya secara tepat, ketika mengucapkan suatu kalimat digunakan suara yang naik – turun, lemah  – lembut, disela dengan jeda, serta intonasi di akhir kalimat. Sedang untuk memaknai kalimat tertulis, digunakan tanda baca yang mewakili  cara pengucapan atau intonasi.

Para ahli juga mengemukakan pendapatnya tentang definisi dari kalimat, salah satunya Kridalaksana. Kridalaksana mengungkapkan jika kalimat merupakan satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunya pola intonasi final, serta secara aktual dan potensial terdiri dari klausa. Selanjutnya, Hal senada juga dikemukakan oleh kokt Cook, Cook  mendefinisikan sebagai suatu satuan bahasa yang secara relative dapat berdiri sendiri – sendiri, yang mempunyai pola intonasi akhir dan terdir dari klausa. Sumber lain menyebutkan jika kalimat merupakan gabungan dari dua kata atau lebih yang menghasilkan sebuah pengertian dan pola intonasi akhir.

Penulis sendiri mendifinisikan Kalimat merupakan rangkaian kata yang tersusun sesuai dengan kebutuhan secara tepat. Yang dimaksud rangkaian kata yaitu membangun struktur kalimat bisa berupa rangkaian frasa atau klausa dan  bisa sesuai dengan struktur pola kalimat.

B. Unsur – Unsur Kalimat

Kalimat memiliki unsur unsur yang membangunnya, secara luas kita mengenal konstituen dasar pembentuk kalimat yang meliputi kata; frasa; dan klausa. Kata merupakan satuan terkecil dalam kalimat secara gramatikal. Kata dapat berdiri sendiri, maupun bergabung dengan kata – kata lain membangun struktur kalimat. Kridalakana mengungkapkan jika kata terjadi dari morfem tunggal, seperti makan, jalan, Tuhan, pergi, kembali, buah, dan lain sebagainya.
Pembentuk kalimat lain adalah frasa. Frasa sering didefinisikan sebagai kumpulan dua kata atau lebih yang tidak berciri klausa, atau tidak memiliki ciri predikat di dalamnya. Seperti halnya dengan kata, frasa juga dapat berdiri sendiri dengan kondisi sebagai jawaban dari sebuah pertanyaan. Misal
Konstituen dasar pembentuk kalimat yang selanjutnya adalah klausa. Menurut Cook, klausa merupakan kelompok kata yang hanya mengandung satu predikat. Selain itu, Dola mendefinisikan klausa sebagai satuan gramatikal yang disusun oleh kata atau frasa yang sedikitnya minimal satu predikat. Pengertian lain menjelaskan jika kalimat  merupakan kumpulan kata yang memiliki sekurang – kurangnya memiliki satu subjek dan predikat.

Contoh pembentukan kalimat :
Ayam                                                 (kata)
Ayam goreng                                    (frasa)
Saya makan ayam goreng              (kalimat)

Sebelumnya beberapa kali disebutkan istilah ‘subjek’ dan ‘predikat’. Subjek dan predikat merupakan beberapa unsur dari suatu kalimat, bila menilik lebih dalam unsur – unsur lain penyusun kalimat yang lain adalah objek dan keterangan. Agar lebih memahami apa sajakah unsur – unsur yang terdapat dalam suatu kalimat, berikut penjelasannya yang sesuai dengan pola kalimat,

1.      Subjek
Subjek merupakan bagian yang menunjukkan pelaku atau masalah dari suatu kalimat. Subjek pada umumnya berupa kata benda maupun frasa yang merujuk pada benda. Selain itu subjek dapat merupakan kata atau nama yang merujuk pada seseorang maupun kelompok, misal ‘aku’, ‘dia’, ‘mereka’, ‘Diana’, dan lain – lain. Selain itu, subjek akan menjawab pertanyaan tentang : ‘apa’ dan ‘siapa’.
Contoh :
Donald Trump terpilih sebagai presiden Amerika Serikat tahun ini.
(menjawab, “Siapa presiden terpilih Amerika Serikat tahun ini?”)
Sebuah bus  AKDP menabrak dua motor di depannya.
(menjawab. “Apa yan menabrak dua motor tadi”)
Saipah yang melakukan aksi pencurian tadi pagi, tidak lain mantan satpam di rumah itu sendiri.
(menjawab, “Siapa yang melakukan aksi pencurian tadi pagi?”)

2.      Predikat
Predikat merupakaan bagian dasri suatu kalimat yang menyatakan suatu tindakan atau keadaan dari subjek yang dapat berupa kata maupun frasa. Predikat digunakan untuk menjawab pertanyaan: mengapa dan bagaimana.
Contoh :
Ayah ­sakit
(menjawab, “Ayah mengapa tidak masuk kerja?” atau “Bagaimana keadaan ayahmu?”)
Diana tidak keluar kamar seharian
(menjawab, “Bagaimana keadaannya setelah mendengar kabar itu?”)

3.      Objek
Dalam kalimat, objek merupakan bagian yang melengkapi predikat, biasanya berupa  nomina, frasa, maupun klausa. Suatu objek dapat berubah kedudukannya menjadi suatu subjek, jika kalimat tersebut dirubah dari kalimat aktif menjadi kalimat pasif.
Contoh :
Franky menendang bola
(Franky : subjek; bola : objek)
Bola ditendang Franky
(Franky : objek; bola : subjek. “Bola” berdiri sebagai subjek karena  jika kata “Franky” dihilangkan, maka “Bola ditendang” masih dapat berdiri sebagai kalimat dan memenuhi syarat adanya subjek dan predikat)

4.      Keterangan
Keterangan merupakan bagian kalimat yang menemberikan penjelasan lebih tentang subjek dan predikat dalam suatu kalimat, dalam menambahkan unsur keterangan maka akan disertai konjungsi atau kata hubung. Keterangan dapat berupa  keterangan alat, waktu, tujuan, cara, penyertan, penyebab, saling, dan sebagainya.
Contoh :
Ani pergi ke pasar dengan sepeda.
(Sepeda : keterangan alat; dengan : konjungsi)
Ria meninggalkan tasnya di mushola.
(Mushola : keterangan tempat; di : konjungsi)

5.      Pelengkap
Pelengkap memberi penjelasan lebih jauh dari makna suatu kalimat. Berbeda dengan keterangan, unsur pelengkap tidak memerlukan kata hubung sebelumnya.
Julia memberikan Anna kado Boneka
(kado boneka : pelangkap)
Semua peraturan di Indonesia berdasarkan UUD 1945
(UUD 1995 : pelengkap)

C. Pengklasifikasian Kalimat

Kalimat memiliki beberapa jenis yang membedakannya satu sama lain. Pembagian jenis–jenis kalimat didasarkan pada 1) pengucapan; 2) jumlah frasa atau struktur gramatikal; 3) isi atau fungsi; 4) unsur kalimat; 5) pola subjek – predikat; 6) gaya penyajian; dan 7) subjeknya. Untuk memperjelas, berikut ini ulasannya.

 

1.   Pembagian Jenis Jenis Kalimat Berdasarkan Pengucapannya

Berdasarkan pengucapannya, kalimat dibedakan menjadi dua jenis, yakni kalimat langsung dan kalimat tidak langsung.
1.1. Kalimat Langsung
Kalimat langsung merupakan kalimat hasil kutipan dari ucapan seseorang tanpa melalui perantara dan tanpa merubah sedikitpun apa yang ia utarakan. Kalimat ini ditandai dengan penggunaan tanda petik untuk membedakan kalimat kutipan dengan kalimat penjelas.
Contoh :
“Riana akan pulang nanti sore,” Desti memberi kabar
Andriana berkata, “Aku mungkin tidak akan pulang malam ini. Besok aku beri kabar lagi.”
“Andai waktu itu ibumu ini tidak lari, Nak,” Ibu mulai bercerita, “tidak mungkin kamu bisa sampai sebesar ini. Karena kalo ibu tidak lari, kita pasti ikut hangus bersama desa kita.”
1.2. Kalimat Tidak Langsung
Kalimat tidak langsung merupakan kalimat yang menceritakan kembali isi atau pokok ucapan yang pernah disampaikan seseorang tanpa perlu mengutip keseluruhan kalimatnya.
Contoh :
Aku pernah mendengar Aisya bercerita bahwa sebenarnya ia tidak terlalu senang dengan kabar perjodohan yang diatur oleh orang tuanya.
Tadi Bu Neti berpesan jika hari beliau tidak dapat masuk kelas karena suatu urusan. Namun, beliau memberikan tugas untuk mengerjakan LKS halaman 75.
Burhani mengancam tidak masuk sekolah bila ia masih merasa mendapat bully-an dari teman sekelasnya.

2.   Pembagian Jenis Jenis Kalimat Berdasarkan Jumlah Frasanya (Struktur Gramatical)


Dilihat dari jumlah frasanya, kalimat dapat dibedakan menjadi kalimat tunggal (terdiri dari kalimat nominal dan kalimat verbal) serta kalimat majemuk (terdiri dari kalimat majemuk setara, majemuk bertingkat, dan majemuk campuran).

Kalimat tunggal merupakan kalimat yang hanya terdiri dari satu klausa, yang terbentuk dari satu pola. Berikut ini pola – pola dalam kalimat tunggal beserta contohnya
No
Pola Kalimat
Kategori Kata
Contoh
1
Subjek (S) + Predikat (P)
Kata Benda (KB) + Kata Kerja (KK)
Pendemo berorasi.
Kata Benda + Kata Sifat (KS)
Pemilik villa itu menakutkan.
Kata Benda + Kata Bilangan (KBil)
Harga sofa itu dua juta rupiah
2
S + P + Keterangan (K)
KB + KK +(Konjungsi + Kata Benda)
Ayu menari dengan gemulai.
3
S + P + Pelengkap (Pel)
KB1 + KK + KB2
Mukanya bersemu merah.
4
S + P + O
KB1 + KK + KB2
Ayah membeli roti.
5
S + P + O + K
KB1 + KK + KB2 +(Konjungsi + KB3)
Rasya menikahi gadis itu di Bali.
6
S + P + O + Pel
KB1 + KK + KB2 + KB3
Ayah membelikan aku sebuah bunga.

Kalimat tunggal berdasarkan jenis predikat yang digunakan, dibagi menjadi dua yakni kalimat nomina dan kalimat verbal
1)       Kalimat Nomina
Kalimat nomina merupakan jenis kalimat yang menggunakan kata benda (kata bilangan atau kata sifat) sebagi predikat
Contoh :
Tentara itu tewas di medan perang.
Adik saya ada dua orang

2)       Kalimat Verbal
Kalimat verbal merupakan jenis kalimat yang menggunakan kata kerja sebagai predikat.
Contoh :
Andi mengayuh sepedanya pelan.
Siska makan di kamarnya.

2.2. Kalimat Majemuk

Kalimat majemuk merupakan kalimat yang terdiri dari dua atau lebih kalimat tunggal yang saling berhubungan. Berdasarkan kedudukan satu kalimat tunggal dengan yang lain, kalimat majemuk dibedakan menjadi kalimat majemuk setara (baca : contoh kalimat majemuk setara), bertingkat (baca : contoh kalimat majemuk bertingkat), dan campuran (baca : contoh kalimat majemuk campuran).
1)       Kalimat Majemuk Setara
Kalimat majemuk setara merupakan kalimat yang terdiri dari dua kalimat tunggal, di mana kedudukan masing masing kalimat tersebut setara. Kalimat majemuk setara dibagi lagi menjadi beberapa jenis, seperti berikut;
(1)   Kalimat majemuk setara penggabungan, biasanya ditandai dengan penggunaan kata hubung  (konjungsi) “dan” atau “serta”.
Contoh :
Saya bertanggung jawab atas kedatangan peserta hingga ke penginapan dan  Andi akan mengambil tanggung jawab tentang segala keperluan peserta sesampainya di sana.

(2)   Kalimat majemuk setara pertentangan, biasanya ditandai dengan kata hubung (konjungsi) “tetapi”, “sedangkan”, “melainkan”, “namun”, dan sebagainya.
Contoh :
Kelas kami akan mengadakan study tour ke Palembangnamun dia memilih untuk tidak ikut.

(3)   Kalimat majemuk setara pemilihan, biasanya ditandai dengan kata hubung “atau”.
Contoh :
Riana masih bingung menentukan antara ikut menemani ibunya kuliah di Jerman atau tetap tinggal di sini bersama ayahnya.

(4)   Kalimat majemuk setara penguatan, biasanya ditandain dengan kata hubung “bahkan”.
Contoh :
Dia memang pemuda yang cerdas, bahkan di usianya yang ke-17 ia sudah mendapatkan gelar sarjana pertamanya.

2)      Kalimat Majemuk Bertingkat
Kalimat majemuk bertingkat merupakan kalimat yang menggabungkan dua kalimat tunggal atau lebih di mana satu sama lain memiliki kedudukan yang berbeda, yakni sebagai induk kalimat dan anak kalimat. Kalimat majemuk bertingkat dapat dibagi menjadi 10 jenis berdasarkan penggunaan kata hubung atau konjungsinya, yakni,
(1)   Waktu : “ketika”, “sejak”, “saat ini”, dsb.
Contoh :
Anak itu sudah lama hidup sendiri semenjak orang tuanya meninggal ketika dia masih bayi.
(2)   Sebab: “karena”, “oleh karena itu”, “sebab”, “oleh sebab itu”, dsb.
Contoh :
Tia memuntus pergi dari rumah karena ia tidak kuat lagi melihat kelakuan ayahnya.
(3)   Akibat: “hingga”, “sehingga”, “maka”, dsb.
Contoh :
Kebakaran hutan itu meluas hingga asap kabut yang ditimbulkan berdampak hingga Singapura dan Malaysia.
(4)   Syarat: “ jika”, “asalkan”, “apabila”, dsb.
Contoh :
Ani bersedia menerima lamaran Ali, apabila kedua orang tuanya merestui hubungan mereka.
(5)   Perlawanan: “meskipun”, “walaupun”, dsb.
Contoh :
Meskipun diiming – imingi uang ganti rugi yang besar, warga Kampung Barang  tetap menolak dipindahkan.
(6)   Pengandaian: “andaikata”, “seandainya”, dsb.
Contoh :
Seandainya Risko menunggu lebih lama lagi, ia pasti akan berjumpa dengan Dewi di kafe itu.
(7)   Tujuan: “agar”, “supaya”, “untuk”, dsb.
Contoh:
Triana menutuskan pindah ke apartemen ini agar lebih dekat dengan kantornya.
(8)   Perbandingan: “bagai”, “laksana”, “ibarat”, “seperti”, dsb.
Contoh :
Budak itu jatuh cinta pada putri kerajaan bagaikan punguk yang merindukan bulan.
(9)   Pembatasan: “kecuali”, “selain”, dsb.
Contoh :
Dia sangat jago di semua mata pelajaran kecuali pelajaran olahraga.
(10)   Alat: “dengan + kata benda”
Contoh:
Orang itu pergi ke kantor dengan menggunakan mobil.

3)      Kalimat Majemuk Campuran
Kalimat majemuk setara merupakan kalimat majemuk yang menggabungkan kalimat majemuk setara dengan kalimat majemuk setingkat. Kalimat majemuk campuran terdiri dari sekurang – kurangnya tiga kalimat tunggal.
Contoh :
Patria sedang memasak dan Toni menonton TV di ruang keluarga, ketika aku tiba di rumah mereka.
(kata hubung “dan” menyatakan kaimat majemuk setara, kata hubung “ketika” menyatakan kalimat majemuk bertingkat.)

3.   Pembagian Jenis Jenis Kalimat Berdasarkan Isi atau Fungsinya

Menurut pembagian berdasarkan isi atau fungsi suatu kalimat, kalimat dibedakan menjadi lima jenis, seperti berikut

3.1. Kalimat Berita atau Pernyataan (Deklaratif)
Merupakan kalimat yang bertujuan untuk menyampaian suatu informasi. Kalimat ini dalam penulisannya  di akhiri dengan tanda baca titik (.).Dalam pembacaannya, pada akhir kalimat biasanya memiliki intonasi yang menurun.
Contoh :
Ari tengah berlari ke hutan. (memberitahu kepastian)
Aku menolak hadir dalam acara tersebut. (memberitahu pengingkaran)
Pemain baru itu sepertinya tidak periu dikhawatirkan. (memberitahu kesangsian)

3.2. Kalimat Tanya (Interogatif)
Merupakan kalimat digunakan untuk mencari tahu suatu informasi atau jawaban atau respon dari lawan bicara. Kalimat ini dalam penulisannya di akhiri dengan tanda baca tanya (?). Contoh :
Bagaimana kabarmu hari ini?
Apakah kau sudah bertemu langsung dengan ayahnya?
Di mana kamu tinggal sekarang?
Siapa yang mengantarkanmu ke rumah tadi?
Kapan terakhir kali Anda melihat pria tersebut?
Mengapa kamu nampak ceria sekali hari ini?

3.3. Kalimat Perintah (Imperatif)
Kalimat perintah merupakan kalimat yang bertujuan untuk memberikan perintah kepada seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam penulisannya, kalimat perintah akan diakhiri dengan tanda baca seru (!). Serta dalam pembacaannya, pada akhir kalimat biasanya digunakan intonasi yang meninggi.
Contoh :
Tolong ambilkan kertas di meja itu! (permohonan)
Jangan mendekat! (larangan)
Mari kita jaga kelestarian hutan lindung? (ajakan)

3.4. Kalimat Seruan
Kalimat seruan digunakan untuk mengungkapkan perasaan. Sama seperti kalimat perintah, dalam pelafalannya pada akhir kalimat biasanya ditandai dengan intonasi yang tinggi. Dalam penulisannya, kalimat seruan juga diakhiri dengan tanda seru (!).
Contoh :
Wah, indah sekali pantai!
Hore, aku menang!

3.5. Kalimat Pengandaian
Kalimat pengandaian bertujuan untuk menggambarkan keinginan atau tujuan dari penulis atau pembicara yang belum atau tidak terwujud. Kalimat pengandaian dalam penulisannya diakhiri dengan tanda baca titik (.).
Contoh:
Andai saja aku bisa mengulang waktu kembali.
Seandainya aku menjadi dokter nantinya, aku hanya akan pergi ke daerah terpencil dan memberikan pengobatan bagi yang membutuhkan di sana.

 

4.   Pembagian Jenis Jenis Kalimat Berdasarkan Unsur Kalimat

      Dilihat dari unsur di dalamnya, kalimat dapat dibedakan menjadi dua, yakni,

4.1. Kalimat Lengkap
Kalimat lengkap merupakan kalimat yang sekurang – kurangnya terdiri atas sebuah subjek dan sebuah predikat. Kalimat majas dapat dikategorikan sebagai kalimat lengkap
Contoh:
Anak – anak   bermain   di lapangan
      S                     P               K
Ayah   membeli   mobil baru
  S            P                 O

4.2. Kalimat Tidak Lengkap
Kalimat tidak lengkap merupakan kalimat yang tidak sempurna. Kalimat dengan bentuk tidak sempurna kadang hanya memiliki sebuah subjek saja, sebuah predikat, atau bahkan hanya terdiri atas objek dan keterangan. Kalimat ini biasanya digunakan untuk kalimat semboyan, salam, perintah, pertanyaan, ajakan, jawaban, seruan, larangan, sapaan, dan kekaguman.
Contoh:
Hei, Diana!
Rajin pangkal pandai.
Wah, indah sekali!
Terima kasih.
Selamat sore!
Tidak.

 

5.   Pembagian Jenis Jenis Kalimat Berdasarkan Pola Subjek – Predikat

Apabila ditinjau dari struktur serta susunan atas subjek dan predikatnya, kalimat dapat dibagi menjadi dua jenis, yakni,

5.1. Kalimat Versi
Kalimat versi merupakan kalimat yang sesuai dengan susunan pola kalimat dasar pada Bahasa Indonesia (S – P) atau (S – P – O – K) atau (S – P – K ) dan lain sebagainya.
Contoh:
Aku   berjalan   sejauh tiga kilometer.
S            P                       K
Diah   membeli   sepatu   di Pasar Anyer
S            P              O                     K
5.2. Kalimat Inversi
Kalimat inversi merupakan kalimat yang memiki ciri khas adanya predikat yang mendahului kata subjek. Kaliman versi biasanya digunakan untuk menyampaikan penekanan atau ketegasan makna. Kata pertama yang muncul merupakan kaa yang menjadi penentu makna kalimat sekaligus menjadi kata yang menimbulkan kesan terhadap pembaca maupun pendengarnya.
Contoh:
Bawa   gadis itu   ke hadapanku!
P             S                   K

 

6.   Pembagian Jenis Jenis Kalimat Berdasarkan Gaya Penyajian

      Berdasarkan gaya penyajiannya, kalimat dikategorikan menjadi tiga jenis, yakni,

6.1. Kalimat yang Melepas
Kalimat ini merupakan kalimat yang ditulis maupun diucapkan menggunakan dengan gaya penyajian melepas. Gaya penulisan melepas ditandai dengan kalimat  majemuk di awali dengan induk kalimat atau kalimat utama serta diikuti oleh anak kalimatnya.
Contoh :
Putri tidak akan tertinggal kereta jika di jalan tadi tidak terjadi kecelekaan yang menyebabkan kemacetan panjang.
(“Putri tidak akan tertinggal kereta” merupakan kalimat induk, “kereta jika di jalan tadi tidak terjadi kecelekaan yang menyebabkan kemacetan panjang” merupakan anak kalimat.)
Sponsors Link

6.2. Kalimat yang Klimaks
Kalimat ini terbentuk ketika suatu kalimat majemuk disajikan dengan cara menempatkan anak kalimat di depan kalimat induknya. Kalimat ini biasanya ditandai dengan penggunaan tanda baca koma (,).
Contoh :
Jika dia dibawa ke rumah sakit lebih cepat, mungkin nyawanya masih bisa tertolong
(“Jika dia dibawa ke rumah sakit lebih cepat” merupakan anak kalimat, “mungkin nyawanya masih bisa tertolong” merupakan kalimat utama)

6.3. Kalimat yang Berimbang
Kalimat yang berimbang biasanya tersusun dalam bentuk kalimat majemuk setara atau kalimat majemuk campuran. Gaya penyajian berimbang bertujuan untuk menunjukan kesejajaran bentuk dan informasinya.
Contoh :
Harga daging sapi menjelang Idul Adha melonjak, pedagang dan konsumen mengeluhkan tingginya kenaikan.

 

7.   Pembagian Jenis Jenis Kalimat Berdasarkan Subjeknya

Jika dilihat dari subjeknya, kalimat dibedakan menjadi dua jenis,yakni kalimat aktif dan kalimat pasif.

7.1. Kalimat Aktif
Kalimat aktif merupakan kalimat di mana unsur subjek di dalamnya melakukan suatu tindakan (pekerjaan). Kalimat jenis ini akan menggunakan predikat dengan awalan “me-” dan “ber-” serta predikat yang berupa kata kerja yang tidak dapat diberikan awalan “me-”, seperti mandi, pergi, tidur, dan lain sebagainya.
Contoh :
Ani pergi ke pasar.
Surya merangkak di kegelapan agar tidak terlihat musuh.

Kalimat aktif dapat dikategorikan kembali menjadi 3 jenis, yaitu,
1)      Kalimat Aktif Transitif
Kalimat aktif ini dapat disisipi unsur objek di dalamnya. Kalimat aktif ini biasanya memiliki predikat yang berawalan “me-” dan dapat dirubah ke dalam bentuk pasif.
Contoh :
Mereka membuat peta dengan skala 1 : 1.000.000. (bentuk aktif)
Peta dengan skala 1 : 1.000.000 dibuat oleh mereka. (bentuk pasif)

2)      Kalimat Aktif Intransitif
Kalimat aktif ini tidak memungkinkan diikuti oleh objek di dalamnya. Kalimat aktif ini biasanya menggunakan predikat yang berawalan “ber-” dan tidak dapat di rumah menjadi kalimat pasif.
Contoh :
Polisi berjaga di sekitar tempat pengeboman.
Kucingku beranak tiga.

3)      Kalimat Semi Transitif
Kalimat ini merupakan kalimat aktif yang tidak dapat dirubah menjadi bentuk pasif karena kalimat ini diikuti oleh unsur pelengkap bukan objek.
Contoh :
Susilo Bambang Yudhoyono   menjadi   Presiden keenam Indonesia
                  S                         P                                 Pel
Keputusan ini   berdasarkan   hasil musyawarah
                  S                         P                        Pel

7.2. Kalimat Pasif
Kalimat pasif adalah kalimat yang subjeknya dikenai pekerjaan atau tindakan. Kalimat pasif biasanya memiliki predikat berupa kata kerja berawalan “di-” dan “ter-” serta diikuti kata depan “oleh”. Kalimat pasif dibedakan kembali menjadi dua bentuk, yakni,

1)  Kalimat Pasif Biasa
Kalimat pasif ini merupakan kalimat hasil dari transformasi kalimat aktif transitif. Kalimat pasif ini memiliki predikat yang memilki imbuhan “di-”, “ter-”, “ke-an”.
Contoh:
Bola ditendang Adnan.
Kertas itu tertiup angin.

2)    Kalimat Pasif Zero
Kalimat pasif ini memiliki objek pelaku yang berdekatan dengan objek penderita tanpa adanya sisipan kata lain. Predikat pada kalimat ini menggunakan akhiran “-kan” dan tanpa disertai awalan “di-”. Selain itu, predikatnya juga dapat berupa kata dasar dari kata kerja.
Contoh :
Akan aku tunjukan kemampuanku disini.
Akan saya sampaikan pesanmu padanya

D. Kalimat Inti, Luas, dan Transformasi

      1.   Kalimat inti
            Kalimat inti adalah kalimat mayor yang hanya terdiri atas dua kata dan sekaligus menjadi inti kalimat.
            Ciri-ciri kalimat inti:
1)  Hanya terdiri atas dua kata
2)  Kedua kata itu sekaligus menjadi inti kalimat
3)  Tata urutannya adalah subjek mendahului predikat
4)  Intonasinya adalah intonasi ”berita yang netral”. Artinya: tidak boleh menyebabkan perubahan atau pergeseran makna laksikalnya..
      2.   Kalimat luas
Kalimat luas adalah kalimat inti yang sudah diperluas dengan kata-kata baru sehingga tidak hanya terdiri dari dua kata, tetapi lebih.
      3.  Kalimat transformasi
Kalimat transformasi merupakan kalimat inti yang sudah mengalami perubahan atas keempat syarat di atas yang berarti mencakup juga kalimat luas. Namun, kalimat transformasi belum tentu kalimat luas.
            Contoh kalimat  Inti, Luas, dan Transformasi
1)       Kalimat Inti. Contoh: Adik menangis.
2)       Kalimat Luas. Contoh: Radha, Arief, Shinta, Mamas, dan Mila sedang belajar dengan serius, sewaktu pelajaran matematika.
3)       Kalimat transformasi. Contoh:
i)    Dengan penambahan jumlah kata tanpa menambah jumlah inti, sekaligus juga adalah kalimat luas: Adik menangis tersedu-sedu kemarin pagi.
ii)   Dengan penambahan jumlah inti sekaligus juga adalah kalimat luas: Adik menangis dan merengek kepada ayah untuk dibelikan komputer.
iii)   Dengan perubahan kata urut kata. Contoh: Menangis adik.
iv)   Dengan perubahan intonasi. Contoh: Adik menangis?
     
4)   Kalimat Mayor dan Minor

i)    Kalimat mayor
      Kalimat mayor adalah kalimat yang sekurang-kurangnya mengandung dua unsur inti.
      Contoh:      Amir mengambil buku itu.
                        Arif ada di laboratorium.
                        Kiki pergi ke Bandung.

Ibu segera pergi ke rumah sakit menengok paman, tetapi ayah menunggu kami di rumah Rati karena kami masih berada di sekolah.

ii)   Kalimat Minor
      Kalimat minor adalah kalimat yang hanya mengandung satu unsur inti atau unsur pusat. 
      Contoh:  Diam!
                   Sudah siap?
                   Pergi!
                   Yang baru!
      Kalimat-kalimat di atas mengandung satu unsur inti atau unsur pusat.
      Contoh: Amir mengambil.
Arif ada.
Kiki pergi
Ibu berangkat-ayah menunggu.
      Karena terdapat dua inti, kalimat tersebut disebut kalimat mayor.

5)   Kalimat Efektif
      Kalimat efektif adalah kalimat berisikan gagasan pembicara atau penulis secara singka, jelas, dan tepat.
Jelas          : berarti mudah dipahami oleh pendengar atau pembaca.
Singkat       : hemat dalam pemakaian atau pemilihan kata-kata.
Tepat          : sesuai dengan kaidah bahasa yang berlaku.

6)   Kalimat Tidak Efektif

Kalimat tidak efektif adalah kalimat yang tidak memiliki atau mempunyai sifat-sifat yang terdapat pada kalimat efektif.
Sebab-Sebab Ketidakefektifan Kalimat
(1)   kontaminasi= merancukan 2 struktur benar  1 struktur salah
      contoh:
a.       diperlebar, dilebarkan  diperlebarkan (salah)
b.      memperkuat, menguatkan  memperkuatkan (salah)
c.       sangat baik, baik sekali  sangat baik sekali (salah)
d.      saling memukul, pukul-memukul  saling pukul-memukul (salah)
e.       Di sekolah diadakan pentas seni. Sekolah mengadakan pentas seni  Sekolah mengadakan pentas seni (salah)

(2)        pleonasme= berlebihan, tumpang tindih
      contoh :
a.       para hadirin (hadirin sudah jamak, tidak perlu para)
b.      para bapak-bapak (bapak-bapak sudah jamak)
c.       banyak siswa-siswa (banyak siswa)
d.      saling pukul-memukul (pukul-memukul sudah bermakna ‘saling’)
e.       agar supaya (agar bersinonim dengan supaya)
f.        disebabkan karena (sebab bersinonim dengan karena)

(3)   tidak memiliki subjek
      contoh:
a.       Buah mangga mengandung vitamin C.(SPO) (benar)
b.      Di dalam buah mangga terkandung vitamin C. (KPS) (benar) ??
c.       Di dalam buah mangga mengandung vitamin C. (KPO) (salah)

(4)   adanya kata depan yang tidak perlu
a.       Perkembangan  daripada teknologi informasi sangat pesat.
b.      Kepada siswa kelas I berkumpul di aula.
c.       Selain daripada bekerja, ia juga kuliah.

(5)    salah nalar
a.       waktu dan tempat dipersilahkan. (Siapa yang dipersilahkan)
b.      Mobil Pak Dapit mau dijual. (Apakah bisa menolak?)
c.       Silakan maju ke depan. (maju selalu ke depan)
d.      Adik mengajak temannya naik ke atas. (naik selalu ke atas)
e.       Pak, saya minta izin ke belakang. (toilet tidak selalu berada di belakang)
f.        Saya absen dulu anak-anak. (absen: tidak masuk, seharusnya presensi)
g.      Bola gagal masuk gawang. (Ia gagal meraih prestasi) (kata gagal lebih untuk subjek bernyawa)

(6)  kesalahan pembentukan  kata
a.       mengenyampingkan seharusnya mengesampingkan
b.      menyetop seharusnya menstop
c.       mensoal seharusnya menyoal
d.      ilmiawan seharusnya ilmuwan
e.       sejarawan seharusnya ahli sejarah

(7)  pengaruh bahasa asing
a.       Rumah di mana ia tinggal … (the house where he lives …) (seharusnya tempat)
b.      Sebab-sebab daripada perselisihan … (cause of the quarrel) (kata daripada dihilangkan)
c.       Saya telah katakan … (I have told) (Ingat: pasif persona) (seharusnya telah saya katakan)

(8)  pengaruh bahasa daerah
a.       sudah pada hadir.   (Jawa: wis padha teka) (seharusnya sudah hadir)
b.      oleh saya.   (Sunda: ku abdi) (seharusnya diganti dengan kalimat pasif persona)
c.       Jangan-jangan … (Jawa: ojo-ojo) (seharusnya mungkin)

Adapun dalam perkembangan dalam penggunaan  kalimat berdasarkan Isi atau Fungsinya dalam bahasa Indonesia sebagai berikut;

1.   Kalimat Ambigu (Abiguitas)
Banyak yang bertanya mengenai apa itu kalimat ambigu? Secara sederhana kalimat ambigu adalah kalimat yang dapat diartikan secara berbeda, atau mempunyai dua arti yang mungkin membingungkan.
Contoh kalimat amigu, atau kalimat yang mengandung ambiguitas:
a.      Mayat itu diloncati kucing hidup.
b.      kalimat tersebut bisa berarti
c.      Mayat diloncati oleh kucing hidup.
d.      Mayat diloncati kucing kemudian hidup.
e.      Habib berenang di laut mati.
f.        kalimat tersebut bisa berarti
g.      Habib berenang di laut yang namanya laut mati.
h.      Habib berenang di laut kemudian mati.
i.         Kuterima hadiah kedua kakakku dengan senang hati
j.         kalimat tersebut bisa berarti
k.      Hadiah kedua dari kakakku.
l.         hadiah dari kedua kakakku.


2.   Kalimat Berkarakter
a.      Bahagia bukan berarti memiliki semua yang kita cintai. Bahagia itu mencintai semua yang kita miliki Kesalahan adalah pengalaman hidup, belajarlah darinya. Berat mencoba untuk menjadi sempurna. Tapi cobalah menjadi teladan bagi sesama
b.      Menunjukkan perbuatan baik demi sesuatu yang salah di hadapan orang lain adalah sama dengan menyembunyikan perbuatan yang tidak baik dari orang lain
c.      Penting untuk tak hanya membicarakan kehidupan yang baik, tapi melakukan hal yang baik
d.      Kebahagiaan hanya bisa ditemukan dengan membantu orang lain menemukannya ~ Napoleon Hill
e.      Musuh kita bukanlah mereka yang menyakiti kita, melainkan sifat membenci yang ada pada diri kita

3.   Kalimat Deklaratif (Kalimat Berita)
Kalimat deklaratif dalam bahasa Indonesia merupakan kalimat yang mengandung maksud memberitakan sesuatu kepada lawan tutur. Sesuatu yang diberitakannya, umumnya, merupakan pengungkapan suatu peristiwa atau suatu kejadian, baik dalam bentuk tuturan langsung maupun tidak langsung.
Kalimat deklaratif yang lebih dikenal dengan kalimat berita atau kalimat pernyataan, jika dibandingkan dengan kalimat lainnya tidak bermarkah khusus. Kalimat deklaratif umumnya digunakan untuk membuat pernyataan sehingga isinya merupakan berita informasi tanpa mengharapkan responsi tertentu. Contohnya  apabila kita melihat suatu keadaan dan menyiarkan (menyampaikan) kepada orang lain tentang hal itu maka kita dapat menyampaikannya dalam bermacam-macam kalimat berita (deklaratif).
Contoh kalimat deklaratif
a.   Tadi pagi ada tabrakan mobil dekat Monas.
b.   Saya lihat ada bus masuk Ciliwung tadi pagi.
c.   Waktu ke kantor, saya lihat ada yang menabrak becak sampai hancur.
d.   Saya ngeri melihat tabrakan antara bus PPD dan sedan Fiat tadi pagi.
e.  Tadi pagi ada sedan Fiat ditabrak bus PPD.
Dilihat dari segi bentuknya, kalimat tersebut bermacam-macam, ada yang berbentuk aktif, pasif, inversi, dan sebagainya, tetapi dilihat dari  fungsi komunikatifnya, kalimat di atas sama yaitu merupakan kalimat berita.

4.  Kalimat Imperatif
Kalimat ini disebut juga dengan kalimat perintah atau permintaan. Kalimat perintah adalah kalimat yang bertujuan memberikan perintah kepada orang lain untuk melakukan sesuatu.
Biasanya diakhiri dengan tanda seru (!). Dalam bentuk lisan, kalimat perintah ditandai dengan intonasi tinggi.
Kalimat imperatif adalah kalimat yang dibentuk untuk memancing responsi yang berupa tindakan.Kalimat imperatif mempunyai cirri-ciri sebagai berikut:
a.   Intonasi yang ditandai nada rendah di akhir kalimat.
b.  Pemakaian partikel penegas, penghalus dan kata tugas ajakan, harapan, permintaan dan larangan.
c.     Susunan inversi sehingga menjadi tidak selalu terungkap predikat – subjek jika diperlukan.
d.  Pelaku tindakan tidak selalu terungkap.

Kalimat imperatif dapat diperinci menjadi enam golongan :
1)   Perintah atau suruhan biasa. 
Contoh :    Masuk !   
                  Tenang, anak-anak !
2)  Perintah halus  
Contoh :    Tolong kirimkan kontrak ini.  
                  Tolong kontrak ini dikirim segera.
3)  Permohonan, permintaan 
      Contoh      :     Mohon surat ini ditandatangani.
                              Minta perhatian, saudara-saudara !
4)  Ajakan dan harapan 
Contoh :    Ayo cepat ! 
Marilah kita bersatu ! 
Harap duduk dengan tenang !
5)   Larangan atau perintah negatif
Contoh :    Jangan berangkat hari ini. 
                  Janganlah membaca di tempat gelap.
6)   Pembiaran
Contoh :    Biarlah saya pergi dulu, kau tinggal di sini.   
                  Biarlah saya yang menggoreng ikan. 

C.  Kalimat Introgatif
Kalimat tanya adalah kalimat yang dibentuk untuk mendapatkan responsi berupa jawaban. Secara formal, kalimat tanya ditandai oleh hadirnya kata tanya seperti „apa‟, „siapa‟, „berapa‟, „kapan‟, dan juga diakhiri oleh tanda tanya (?) pada bahasa tulis, sedangkan pada bahasa lisan, ditandai dengan intonasi naik jika ada kata tanya atau intonasi turun.

Dalam bahasa Indonesia ada empat cara untuk membentuk kalimat tanya dari kalimat berita :
1)   Dengan menentukan partikel penanya „apa‟, yang dibedakan dari kata tanya „apa‟. 
Contoh :    Dia direktur di perusahaan itu. 
                  Apa dia direktur di perusahaan itu ?
Pemerintah akan menaikkan harga BBM
Apa pemerintah akan menaikkan harga BBM ?
2)  Dengan membalikkan susunan kata (Inversi)
      Contoh ;    Dia dapat pergi sekarang.
                Dapatkah dia pergi sekarang ?
               Narti harus segera kawin.
                Harusklan Narti segera kawin ?
3)  Dengan menggunakan kata bukan (kah) atau tidak (kah)
Contoh ;    Dia sakit  
Dia sakit, bukan ?
Bukankah dia sakit ?
4)   Dengan menggunakan intonasi menjadi naik.
Contoh :    Dia pergi ke Medan
                  Dia pergi ke Medan ?
Penjahat itu belum tertangkap
Penjahat iru belum tertangkap ? 

Kalimat introgatif juga ditandai dengan kata tanya seperti apa,  siapa, kapan, mengapa, berapa. Sebagian besar dari kalimat tanya itu dapat menanyakan unsur wajib dalam kalimat seperti pada contoh (1) dan (2), sebagian lain menanyakan unsur tak wajib seperti pada contoh (3) dan (4). Jawaban atas pertanyaan itu bukan „ya‟ atau „tidak‟.

Contoh : 1).    Dia mencari Pak Akhmad.   
                        Dia mencari siapa ?
                2).    Pak Tariga membaca buku.     
                        Pak Tarigan membaca apa ?
                3).    Minggu depan  mereka akan berangkat ke Amerika.
                        Kapan mereka akan berangkat ke Amerika ?
                4).    Keluarga Daryanto akan pindah ke Surabaya.  
                        Keluarga Daryanto akan pindah kemana ?

Letak kata tanya dapat berpindah tanpa mengakibatkan perubahan apapun. Kalimat (3) dan (4) menjadi „Mereka akan berangkat ke Amerika kapan?‟, „Kemana keluarga Daryanto akan pindah?‟.
Kalimat interogatif yang memakai kata tanya apa atau siapa, yang menanyakan unsur wajib dalam kalimat, apabila urutannya dipindah ke depan mengakibatkan perubahan struktur kalimat.
Contoh:   Dia mencari siapa ?  
  Siapa yang dia cari ?
  Pak Tarigan membaca apa ?
  Apa yang dibaca Pak Tarigan ? 

D. Kalimat Ekslamatif
Kalimat eksklamatif yang dikenal dengan nama kalimat seru, secara formal ditandai oleh kata alangkah, betapa, atau bukan main pada kalimat berpredikat adjektiva. Kalimat eksklamatif  yang dinamakan kalimat interjeksi digunakan untuk menyatakan perasaan kagum atau heran.
Cara pembentukan kalimat eksklamatif dari kalimat deklaratif dengan langkah :
a. Balikkan urutan unsur dari Subjek – Predikat menjadi Predikat – Subjek.
b. Tambahkan partikelnya pada (adjektiva) Predikat.
c.   Tambahkan kata (seru) alangkah,  bukan main atau betapa di muka predikat  jika perlu.
    Contoh : Pergaulan mereka bebas (deklaratif)    
               Bebas pergaulan mereka (kaidah a)
               Bebasnya pergaulan mereka (kaidah b)    
                Alangkah bebasnya pergaulan mereka (kaidah c)          
                Betapa bebasnya pergaulan mereka           
               Bukan main bebasnya pergaulan mereka. 

E. Kalimat Korelatif
Kalimat korelatif adalah kalimat yang dihubungkan dengan konjungtor korelatif yang memiliki status sintaksis yang sama. Konjungtor korelatif terdiri atas dua bagian yang dipisahkan oleh salah satu kata, frase, atau klausa.
Contoh konjungtor korelatif:
baik ... maupun ...                                                                           sedemikian rupa ... sehingga ...
tidak hanya ... , tetapi juga ...                                 apa (kah) ... atau ...
bukan hanya ... , melainkan juga ...                                            entah ... entah ...
demikian ... sehingga ...                                           jangankan ... pun ...

F.   Kalimat Langsung dan Tak Lansung


Kalimat langsung adalah : Kalimat hasil kutipan pembicaaraan seseorang persis seperti apa yang dikatakannya.

Contoh :
Kata Desmon,” Anggel nanti pulangnya saya antar!”
“Anggel Nanti pulangkanya kamu saya antar ya?” kata Desmon.

Kata Desmon disebut kalimat pengiring.
Jika pengiring di belakang perhatikan tanda baca sebelum tanda kutib( Jika kalimat tanya dan perintah sebelum tanda kutib menggunakan tanda ? atau ! jika kalimat berita menggunakan koma. Selain itu Huruf awal di pengiring huruf kecil

perhatikan contoh berikut.
1. ” Kapan bukuku kamu kembalikan? tanya Samid.
2. ” Belikan saya mobil baru! pinta Tria
3. ” Saya akan datang nanti malam, kata Hamid.

Perubahan Kalimat Langsung ke Tak Langsung

Dalam perubahan bentuk ini perhatikan perubahan kata gantinya:
Langsung —>     Tak Lansung
Saya         —->   Dia
Kamu        —–> Saya
Kalian        —–>  Kami
Kami         —–> Mereka
Kita            —–> Kami

Ada alternatif lain agar tidak menghafal :

Caranya Posisikan diri anda menjadi orang yang diajak bicara setelah itu informasikan kepada orang ketiga.
Contoh : Kata Dhani,” Coba kamu bantu saya menyelesaikan tugas ini!”

Maka anda menjadi orang yang diajak bicara Rama,
Setelah itu ada orang lain yg bertanya : Rama tadi bicara apa?
jawab: Rama mengatakan supaya saya membatu dia menyelesaikan tugas.
Jawaban anda itulah kalimat tak langsungnya.

Selamat mencoba.
1. Paman mengatakan,” Pulanglah kalian secepatnya karena sebentar lagi hujan turun.”
2. Kata Ketua Rombongan,” Terimakasih atas sambutan kalian kepada kami pada acara kunjungan kami,”

G.    Kalimat Tak Langsung.

Kalimat menyatakan isi ujaran orang ketiga tanpa mengulang kata-katanya secaraCara merubah Kalimat tak langsung ke Kalimat langsung.

Contoh :   Salsa mengatakan bahwa dia akan datang kerumahku nanti sore.

Untuk merubahnya maka anda harus :
1. Menerka kira-kira Salsa bicaranya apa saat itu.
2. Ubahlah kembali ke Tak Langsung lagi sebagi cek ulang.

Hasilnya :
Kata Salsa,” Saya nanti sore akan kerumahmu.”

Contoh Kalimat Langsung dan Kalimat Tidak Langsung


Contoh Kalimat Langsung
1.       “Kamu memang anak baik.” Kata ibu kepada Rama
2.       Kata Salsa,” Saya nanti sore akan kerumahmu.”
3.       Ayah menyuruh,”Antarkan surat ini ke kantor bapak!”
4.       “Ayo,masuk satu-satu!” Gertak polisi kepada ketiga oramg pencopet itu yang baru saja tertangkap
5.       “Siapa biang keladi bom bali itu?” Tanya wartawan kepada Kadispen Polri
6.       “Kak,kau dipanggil ibu!” Kata lilis,”Di suruh makan.”
7.       Ibu berkata, “Anis, jangan bermain-main saja, kamu harus belajar !”
8.       Ibu berkata,”kamu harus rajin belajar!”
9.       “Aku benar-benar mencintaimu.” Kata ibu kepada ayah.
10.   Kata Salsa,” Coba kamu bantu saya menyelesaikan tugas ini!”
11.   Paman berkata,” Pulanglah kalian secepatnya karena sebentar lagi hujan turun.”
12.   Kata Ketua Rombongan,” Terima kasih atas sambutan kalian kepada kami pada acara kunjungan kami.”
13.   “Kontak batin antara lbu dan anak,” katanya, “ialah rahmat Tuhan yang tak ternilai harganya.”
14.   ” Kapan bukuku kamu kembalikan? Tanya Ahmad.
15.   ” Belikan saya mobil baru!“ Pinta Ernny.
16.   ” Saya akan datang nanti malam, Kata Andi.
17.   D.J Schwartz menegaskan,”Yang penting bukan kita maju, tetapi bagaimana kita harus maju!”
18.   “Anggel Nanti pulangnya saya antar ya?” Kata Desmon.
19.   Ida berkata,”Adikku juara satu!”
20.   Ibu berkata,”Saya akan pergi ke rumah nenek sebentar.”
21.   “Apakah kamu tau gambar ini?” Tanya Pak Jamari.
22.   “Saya belum siap!” kata Mira, “Tunggu sebentar!”
23.   “Di mana Anda tinggal? Tanya Duta.
24.   Ibu berkata, “Engkau tadi dicari Iwan.”
25.   Paman bertanya, “Kapan kamu berangkat ke Solo?”
26.   Nina berkata,”Datanglah ke rumahku!”
27.   Kakek Basir berkata,”Aku ingin menanam lengkeng.”
28.   ”Apakah kamu juga masih sakit perut? Tanya Ayah.
29.   Ibu berkata, “Malam ini kamu harus belajar!”
30.   Akbar berkata, “Aku akan berangkat ke Jakarta besok sore.”

Contoh Kalimat Tidak Langsung

1.       Ibu mengatakan kepada aku bahwa aku memang anak baik.
2.       Webby mengatakan bahwa dia akan datang ke rumahku nanti sore.
3.       Ayah menyuruhku mengantarkan surat ini ke ka kantornya.
4.       Polisi menggertak tiga pencopet yang baru saja tertangkap agar mereka masuk satu per satu.
5.       Wartawan bertanya kepada kadispen polri tentang siapa-siapa yang menjadi biang keladi bom bali itu.
6.       Lilis berkata kepada kakaknya bahwa ia dipanggil ibu untuk makan.
7.       Ibu mengatakan bahwa aku jangan bermain-main dan aku harus belajar.
8.       Ibu berkata bahwa aku harus rajin belajar.
9.       Ibu mengatakan kepada ayah bahwa dia benar-benar mencintainya.
10.   Dhani mengatakan supaya saya membatu dia menyelesaikan tugas.
11.   Paman mengatakan bahwa kami pulang secepatnya karena sebentar lagi turun hujan.
12.   Ketua rombongan mengatakan terima kasih atas sambutan kami kepada mereka pada acara kunjungan mereka.
13.   Dia mengatakan bahwa kontak batin antara ibu dan anak adalah rahmat Tuhan yang tak ternilai harganya.
14.   Samid menanyakan kapan bukunya saya kembalikan.
15.   Tria meminta dia dibelikan mobil baru.
16.   Hamid mengatakan bahwa dia akan datang nanti malam.
17.   D. J Schwartz menegaskan bahwa, yang penting bukan kenapa kami tidak maju, tetapi bagaimana kami harus maju.
18.   Desmon menanyakan kepada Angel bahwa nanti pulangnya dia antar.
19.   Ida mengatakan bahwa adiknya juara satu.
20.   Ibu mengatakan bahwa dia akan pergi sebentar ke rumah nenek.
21.   Pak Jamari menanyakan apakah aku tahu gambar ini.
22.   Mira mengatakan bahwa dia belum siap agar tunggu sebentar.
23.   Duta menanyakan di mana aku tinggal.
24.   Ibu mengatakan bahwa aku tadi dicari Iwan.
25.   Paman bertanya kapan saya berangkat ke Solo.
26.   Nina memintaku dating ke rumahnya.
27.   Kakek Basir berkata bahwa ia ingin menanam lengkeng.
28.   Ayah menanyakan apakah aku juga masih sakit perut.
29.   Ibu mengatakan bahwa malam ini saya harus belajar.
30.   Akbar mengatakan bahwa ia akan berangkat ke Jakarta besok sore.


H.     Kalimat Melepas dan Kalimat Klimaks – Pengertian dan Contohnya

Kalimat melepas dan kalimat klimaks merupakan salah satu dari jenis jenis kalimat dalam bahasa Indonesia. Meski sering dipasangkan dalam tulisan dengan topik bahasa Indonesia, sejatinya kalimat melepas dan kalimat klimaks memiliki gaya penyajian yang saling berlawanan atau terbalik satu sama lain. Hal ini sama halnya seperti dua jenis kalimat berlawanan gaya penyajian atau pola struktur lainnya yang sering dipasangkan, seperti kalimat langsung dan kalimat tidak langsung, kalimat nomina dan kalimat verba dan lain sebagainya.
Dalam artikel kali ini kita akan membahas tentang apa yang dimaksud dengan kalimat melepas dan kalimat klimaks? Serta bagaimana contoh kalimat dari kalimat melepas dan kalimat klimaks ini.

Pengertian Kalimat Melepas dan Kalimat Klimaks

Kalimat melepas dan kalimat klimaks terbagi dalam satu kategori jenis kalimat yakni pembagian jenis kalimat berdasarkan gaya penyajiannya. Kalimat melepas adalah jenis kalimat majemuk yang terdiri dari induk kalimat dan anak kalimat, dimana induk kalimat diletakkan di awal kalimat dan kemudian diikuti oleh anak kalimat. Anak kalimat ini berfungsi sebagai penjelasan lebih lanjut dari induk kalimat. Hal inilah yang dimaksud dengan melepas, yakni diawali inti dari informasi kemudian dilepaskan maknanya atau dijelaskan lebih lanjut maknanya oleh anak kalimat yang diletakkan setelah induk kalimat tersebut.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, klimaks adalah puncak dari suatu hal, kejadian, keadaan, dan sebagainya yang berkembang secara berangsur-angsur; kejadian atau adegan yang paling menarik. Berdasarkan pengertian dari kata klimaks tersebut, maka pengertian kalimat klimaks adalah kalimat yang diawali dari sebuah rincian dan kemudian diikuti oleh inti penting dari informasi. Secara sederhana, kalimat klimaks adalah kalimat majemuk yang diawali dari anak kalimat yang berfungsi sebagai rincian atau penjelasan dan kemudian diikuti oleh induk kalimat sebagai inti dari informasi.

Contoh Kalimat Melepas dan Kalimat Klimaks
Dalam penerapan dan penulisannya pada tulisan bahasa Indonesia, kalimat melepas dan kalimat klimaks dapat dipasangkan dan dapat juga dipisah atau berdiri sendiri. Agar lebih memahami tentang kalimat melepas dan kalimat klimaks, berikut ini contoh masing-masing dari kalimat melepas dan klimaks.

IContoh Kalimat Melepas
1.   Kita harus segera membereskan rumah yang berantakan ini sebelum ayah dan ibu pulang kerumah.
2.   Aku memilih untuk kuliah sambil bekerja karena tidak ingin menambah beban kedua orang tuaku di usia senja mereka.
3.   Kau harus selalu mendapatkan IPK diatas 3 di tiap semester jika ingin lulus dengan predikat cumlaude nantinya.
4.   Kita harus melaksanakan kewajiban dahulu sebelum meminta hak kita.
5.   Kau harus mengerahkan semua kemampuan terbaikmu dulu sebelum akhirnya menyerah pasrah pada kenyataan yang terjadi.
6.   Kami memutuskan untuk mencari pemasok lain karena bahan mentah dari mereka tidak berkualitas baik.
7.   Kita harus memiliki ilmu dan keahlian yang memadai untuk menghadapi persaingan dunia kerja yang semakin sengit.
8.   Aku tidak ingin berteman dengan orang sembarangan karena tidak ingin terbawa dan terjebak dalam lingkungan pergaulan yang bebas.
9.   Sponsors link
Dia tidak hadir hari ini karena ingin menghindari hukuman atas kesalahan yang ia lakukan di hari sebelumnya.
10. Kesalahpahaman ini harus segera dijernihkan sebelum kedua pihak semakin tersulut emosi dan masalahnya semakin rumit.
11. Renovasi rumah ini harus selesai dalam kurun waktu satu bulan karena sang pemilik rumah akan kembali ke kota ini bulan depan.
12. Kita harus terus berlatih dan terus meningkatkan kemampuan diri agar dapat memenangkan kejuaraan nasional kali ini.
13. Kau perlu memperhatikan dan memahami cara penggunaan dari alat ini agar bisa merasakan manfaatnya secara maksimal.
14. Aku dapat menjamin kau akan menerima beasiswa lagi tahun depan asalkan kau konsisten dengan nilai A yang kau dapatkan.
15. Aku tidak akan kembali padanya karena dia sudah terlalu banyak menyakiti perasaan orang tuaku.
16. Kita harus menggunakan bahan mentah terbaik untuk mendapatkan produk jadi berkualitas terbaik.
17. Aku mengetahui berita tentang kepergiannya setelah mendapat telepon dari salah seorang teman lama kami.

Contoh Kalimat Klimaks
1.   Sebelum ayah dan ibu pulang kerumah, kita harus segera membereskan rumah yang berantakan ini.
2.   Karena tidak ingin menambah beban kedua orang tuaku di usia senja mereka, aku memilih untuk kuliah sambil bekerja.
3.   Jika ingin luus dengan predikat cumlaude nantinya, kau harus selalu mendapatkan IPK diatas 3 di tiap semester.
4.   Sebelum meminta hak kita, kita harus melaksanakan kewajiban dahulu.
5.   Sebelum akhirnya kau menyerah pasrah pada kenyataan yang terjadi, kau harus mengerahkan semua kemamppuan terbaikmu dulu.
6.   Karena bahan mentah dari mereka tidak berkualitas baik, kami memutuskan untuk mencari pemasok lain.
7.   Untuk menghadapi persaingan dunia kerja yang semakin sengit kita harus memiliki ilmu dan keahlian yang memadai.
8.   Karena tidak ingin terbawa dan terjebak dalam lingkungan pergaulan yang bebas, aku tidak ingin berteman dengan orang sembarangan.
9.   Karena ingin menghindari hukuman atas kesalahan yang ia lakukan di hari sebelumnya, dia tidak hadir hari ini.
10. Sebelum kedua pihak semakin tersulut emosi dan masalahnya semakin rumit, kesalahpahaman ini harus segera dijernihkan.
11. Karena sang pemilik rumah akan kembali ke kota ini bulan depan, renovasi rumah ini harus selesai dalam kurun waktu satu bulan.
12. Agar dapat memenangkan kejuaraan nasional kali ini, kita harus terus berlatih dan terus meningkatkan kemampuan diri.
13. Agar bisa merasakan manfaatnya secara maksimal kau perlu memperhatikan dan memahami cara penggunaan dari alat ini.
14. Asalkan kau konsisten dengan nilai A yang kau dapatkan, aku dapat menjamin kau akan menerima beasiswa lagi tahun depan.
15. Karena dia sudah terlalu banyak menyakiti perasaan orang tuaku, aku tidak akan kembali padanya.
16. Untuk mendapatkan produk jadi berkualitas terbaik, kita harus menggunakan bahan mentah terbaik pula.
17. Setelah mendapat telepon dari salah seorang teman lama kami, barulah aku mengetahui berita tentang kepergiannya.


I.    Kalimat Normatif dan Kalimat Inversi

Definisi kalimat Normatif ? Apa definisi kalimat Inversi ? dan apa perbedaan diantara keduanya? dalam artikel kita kali ini kita akan membahas tentang kalimat normatif dan kalimat inversi, disertai dengan contoh contohnya.

Urutan fungsi dalam kalimat bahasa Indonesia boleh dikatakan mengikuti pola Subjek–Predikat–Objek (jika ada)–dan Pelengkap (jika ada). Kalimat-kalimat yang berpola seperti tersebut merupakan kalimat yang sering disebut kalimat normatif. ( definisi kalimat normatif )

Akan tetapi, ada satu pola kalimat dalam bahasa Indonesia yang predikatnya selalu mendahului subjek (P–S). Kalimat yang menggunakan pola kalimat seperti itu disebut kalimat inversi. Pada umumnya kalimat inversi mensyaratkan subjek yang tidak
tertentu atau tidak definit. ( definisi kalimat inversi )


Coba, bandingkan pola kedua kalimat berikut ini!
1. Pak Kartono menanam bibit durian.
2. Ada seseorang yang mencari Anda.

Pada kalimat 1 dapat disimpulkan bahwa pola kalimat 1 adalah S–P–O, sedangkan pola kalimat 2 adalah P–S.

Verba ada dalam kalimat inversi dapat digantikan dengan verba terdapat dengan makna yang boleh dikatakan sama. Coba, bandingkan kalimat 1 dan 2 pada contoh berikut.
1.   Ada perbedaan kenyamanan antara menonton film di ruangan ber- AC dan ruangan tidak ber-AC.
2.   Terdapat perbedaan kenyamanan antara menonton film di ruangan ber-AC dan ruangan tidak ber-AC.
Demikian artikel "Kalimat Normatif dan Kalimat Inversi" ini saya susun teman teman. semoga apa yang telah kita pelajari beberapa saat yang lalu dapat bermanfaat untuk kita semua.

Artikel ini saya ambil dari Buku Bahasa Indonesia ( BSE ) " Terampil Berbahasa Indonesia 2 " karangan Gunawan Budi Santoso, Wendi Widya R.D, Uti Darmawati.


J.     Kalimat Perintah

A.    Pengertian dan Ciri Kalimat Perintah
        Kalimat perintah adalah kalimat yang berisi perintah kepada orang lain untuk melakukan sesuatu atau kalimat yang dipakai untuk mendapatkan tanggapan sesuai dengan kehendak penuturnya.
Ciri-ciri kalimat perintah adalah seperti berikut.
1.   Menggunakan partikel –lah.
      Contoh:
1.     Pergilah dari sini!
2.     Cepatlah kamu mandi!
3.     Bantulah adikmu!

2.   Berpola kalimat inversi (PS).
      Contoh:
1. Pergilah dari sini!
2. Ayo masuk!
3. Pulanglah!

3.   Kalimat perintah jika dilisankan berintonasi menaik di awal dan berintonasi rendah di akhir.
Contoh:
1. Bawa barang-barang itu kemari!
2. Selesaikan tugasmu!

4.   Menggunakan tanda seru (!) bila digunakan dalam bahasa tulis.
      Contoh:
1.     Pergilah dari sini!
2.     Ayo masuk!
3.     Pulanglah!

B.    Jenis-Jenis Kalimat Perintah
1.     Kalimat Perintah Biasa
Contoh.
1. Masukkan barang-barang ini ke dalam bagasi mobil!
2. Antarkan surat ini kepada Pak RT sekarang juga!
       
2.     Kalimat Perintah Ajakan
Contoh:
1. Marilah kita gunakan tekstil buatan dalam negeri demi menyukseskan program pemerintah.
2. Ayolah bersenam pagi setiap hari agar badan kita menjadi sehat.
       
3.     Kalimat Perintah Larangan
        Contoh:
1. Jangan membuang sampah di sini.
2. Jangan dekati tempat itu.
       
4.     Kalimat Perintah Permintaan/Larangan
        Contoh:
1. Saya berharap Anda hadir di acara itu.
2. Saya minta kerjakan tugasmu tepat waktu.
     
5.   Kalimat Perintah Permohonan
Contoh:
1. Saya mohon kamu bisa datang di acara pesta ulang tahunku.
2. Kami mohon kepada-Mu, ya Tuhan, tunjukkanlah jalan yang lurus yang Engkau ridhoi.

6.     Kalimat Perintah Pembiaran
Contoh:
1. Biarlah aku yang membawa barang itu.
2. Biarkan dia pergi sendiri.

7.     Kalimat Perintah Sindiran
Contoh:
1. Maju kalau kamu berani.
2. Ambil saja kado yang kauberikan kalau kau tidak malu terhadapnya.

8.     Kalimat Perintah yang Menuntut Proses atau Langkah Kerja
Contoh:
1. Urutlah dari nomor kecil hingga nomor yang besar.
2. Susunlah sehingga membentuk lingkaran penuh.

9.     Kalimat Perintah yang Berbentuk Kalimat Berita
Contoh:
1. Hendaknya Anda bersedia menjadi pengurus kegiatan itu.
2. Terima kasih Anda tidak menolak untuk menjadi pembawa acara pada malam reuni nanti.

Kalimat perintah beragam jenisnya mulai dari yang kasar sampai yang halus. Bahkan karena halusnya sering orang tidak menyadari bahwa hal tersebut berupa perintah. Kalimat perintah dapat diperhalus dengan menggunakan unsur-unsur berikut.
1.     Menggunakan kata-kata seperti mohon, tolong, sudilah, harap, silakan,hendaknya, sebaiknya.
Contoh:
1.     Mohon kembalikan buku itu di meja saya.
2.     Silakan masuk.
3.     Tolong buatkan kopi untuk Ayah.
4.     Hendaknya kamu pulang sekarang.
5.     Harap datang tepat waktu
6.     Sebaiknya cepat bawa adikmu ke rumah sakit.
7.     Sudilah Anda membantu saya menyelesaikan tugas ini.

2.     Menggunakan partikel –lah.
Contoh:
Berangkatlah lebih halus daripada berangkat.

3.     Pengubahan ke struktur tanya.
Contoh:
− Apakah tidak ada petugas piket yang menghapus papan tulis?
       
4.     Pengubahan ke struktur berita.
Contoh:
− Panitia sangat gembira jika Bapak/Ibu berkenan hadir pada acara perpisahan.

RANGKUMAN

A.     Pengertian dan Ciri Kalimat Perintah

Kalimat perintah adalah kalimat yang berisi perintah kepada orang lain untuk melakukan sesuatu atau kalimat yang dipakai untuk mendapatkan tanggapan sesuai dengan kehendak penuturnya.
Ciri-ciri kalimat perintah:
(1) Menggunakan partikel –lah
(2) Berpola kalimat inversi (PS)
(3) Menggunakan tanda seru (!) bila digunakan dalam bahasa tulis
(4) Kalimat perintah jika dilisankan berintonasi menaik di awal dan berintonasi rendah di akhir

B.     Jenis-Jenis Kalimat Perintah
(1)    Kalimat perintah biasa
(2)    Kalimat perintah ajakan
(3)    Kalimat perintah larangan
(4)    Kalimat perintah permintaan
(5)    Kalimat perintah permohonan
(6)    Kalimat perintah pembiaran
(7)    Kalimat perintah sindiran
(8)    Kalimat perintah yang menuntut proses atau langkah kerja
(9)    Kalimat perintah yang berbentuk kalimat berita

        Kalimat perintah dapat diperhalus dengan menggunakan unsur-unsur berikut.
(1) Menggunakan kata-kata seperti mohon, tolong, sudilah, harap, silakan, hendaknya, sebaiknya.
(2)    Menggunakan partikel –lah.
(3)    Pengubahan ke struktur tanya.
(4)    Pengubahan ke struktur berita.

C.    Berbagai Respons Terhadap Perintah

Langkah yang perlu kita tempuh dalam menanggapi perintah:
(1)    Membaca kembali isi perintah secara hati-hati, teliti, dan saksama.
(2)    Merumuskan/menuliskan kembali isi perintah.
(3)    Isi perintah ditulis dalam bentuk kerangka/bagan sehingga mudah dipahami.
(4)    Membuat perencanaan dalam bentuk kerangka/tabel/bagan segala kegiatan yang akan di lakukan dalam rangka memenuhi perintah.
(5)    Meminta konfirmasi kepada pemberi perintah akan ketepatan rencana kegiatan yang telah disusun.


Sumber: google.

Sabtu, 29 Juli 2017

Ruang Lingkup Materi Bahasa Indonesia untuk SMA/MA/SMK/MAK (Umum):Revisi Tahun 2016





1. Pembelajaran

Pembelajaran bahasa Indonesia merupakan sintesis dari tiga pendekatan, yaitu pedagogi genre, saintifik, dan CLIL. Alur utama model adalah pedagogi genre dengan 4M (Membangun konteks, Menelaah Model, Mengonstruksi Terbimbing, dan Mengonstruksi Mandiri). Kegiatan mendapatkan pengetahuan (KD-3) dilakukan dengan pendekatan saintifik 5M (Mengamati, Mempertanyakan, Mengumpulkan Informasi, Menalar, dan Mengomunikasikan). Pengembangan keterampilan (KD-4) dilanjutkan dengan langkah mengonstruksi terbimbing dan mengonstruksi mandiri. Pendekatan CLIL digunakan untuk memperkaya pembelajaran dengan prinsip: (1) isi [konten] teks—berupa model atau tugas--bermuatan karakter dan pengembangan wawasan serta kepedulian sebagai warganegara dan sebagai warga dunia; (2) unsur kebahasaan [komunikasi] menjadi unsur penting untuk menyatakan berbagai tujuan berbahasa dalam kehidupan; (3) setiap jenis teks memiliki struktur berpikir [kognisi] yang berbeda-beda yang harus disadari agar komunikasi lebih efektif; dan (4) budaya[kultur], berbahasa, berkomunikasi yang berhasil harus melibatkan etika, kesantunan berbahasa, budaya (antarbangsa, nasional, dan lokal). Pembelajaran bahasa Indonesia ini dapat digambarkan dalam model sebagai berikut:


Prinsip umum pembelajaran di antaranya adalah sebagai berikut:
1.       Peserta didikdifasilitasi untuk belajar mencari tahu secara mandiri;
2.       Peserta didik belajar dari berbagai sumber belajar;
3.   Proses pembelajaran dapat menggunakan berbagai pendekatan untuk mencapai tujuan pembelajaran;
4.       Pembelajaran berbasis kompetensi;
5.       Pembelajaran terpadu;
6.       Pembelajaranmenekankanpadajawabandivergenyang memiliki kebenaran multi dimensi;
7.       Pembelajaran berbasisketerampilan aplikatif;
8.       Peningkatan keseimbangan,kesinambungan,dan keterkaitan antara hard-skillsdan soft-skills;
9.       Pembelajaranmengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat;
10.  Pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan (ingngarsosung tulodo), membangunkemauan(ing madyomangun karso), dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran (tutwurihandayani);
11.  Pemanfaatanteknologi informasi dan komunikasiuntuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran;
12.  Pengakuanatasperbedaanindividualdanlatarbelakangbudaya peserta didik; dan
13.  Suasana belajarmenyenangkan dan menantang.

Prinsip khusus pembelajaran bahasa Indonesia dilaksanakan dengan menerapkan prinsip:
1.       Bahasa merupakan kegiatan sosial. Setiap komunikasi dalam kegiatan sosial memiliki tujuan, konteks, dan audiens tertentu yang memerlukan pemilihan aspek kebahasaan (tata bahasa dan kosa kata) yang tepat; serta cara mengungkapkan dengan strukur yang sesuai agar mudah dipahami. 
2.       Bahan pembelajaran bahasa yang digunakan wajib bersifat otentik. Pengembangan bahan otentik didapat dari media massa (cetak dan elektronik); tulisan guru di kelas, produksi lisan dan tulis oleh siswa. Semua bahan dikelola guru untuk keberhasilan pembelajaran.
3.       Proses pembelajaran menekankan aktivitas siswa yang bermakna. Inti dari siswa aktif adalah siswa mengalami proses belajar yang efesien dan efektif secara mental dan eksperiensial.
4.       Dalam pembelajaran berbahasa dan bersastra, dikembangkan budaya membaca dan menulis secara terpadu. Dalam satu tahun pelajaran peserta didik dimotivasi agar dapat membaca paling sedikit 8 buku ( buku sastra dan 3 buku nonsastra) sehingga setelah peserta didik menyelesaikan pendidikan pada jenjang SMA/MA membaca paling sedikit 18 judul buku.

Implementasi model pembelajaran Bahasa Indonesia dapat dibagankan sebagai berikut.



(Rincian lebih lanjut dan contoh penerapannya dalam RPP dapat dilihat di Pedoman Mata Pelajaran).

2.       Penilaian
Hal yang paling utama dalam penilaian adalah guru harus menciptakan instrument dan suasana penilaian yang menghindarkan peserta didik dari ketidakjujuran dan plagiarisme peserta didik dalam berkarya/berteks. Oleh sebab itu, penilaian proses menjadi sangat penting. Sedapat mungkin peserta didik lebih banyak mengerjakan tugas di sekolah, bukan menjadi pekerjaan rumah (PR).

Penilaian di dalam mata pelajaran bahasa Indonesia secara umum untuk:
(1)     mengetahui ketercapaian kompetensi pengetahuan, keterampilan, dan sikap berbahasa Indonesia peserta didik;
(2)     mengetahui kemampuan siswa di dalam KD tertentu;
(3)     memberikan umpan balik bagi kegiatan siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia; dan
(4)     memberikan motivasi belajar bagi siswa dan motivasi berprestasi bagi peserta didik dan guru.

Penilaian merupakan sebuah proses yang meliputi tahapan: (1) perencanaan, (2) pengumpulan data, (3) pengolahan data, (4) penafsiran, dan (5) penggunaan hasil penilaian. 

Secara umum teknik penilaian pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu teknik tes dan teknik nontes.Instrumen penilaian yang akan dipergunakan harus dikembangkan oleh guru. Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam mengembangkan instrumen penilaian adalah sebagai berikut: (1) kompetensi yang dinilai, (2)penyusunan kisi-kisi, (3) perumusan indikator pencapaian, dan (4) penyusunan instrumen.

Pengembangan Penilaian Mapel Bahasa Indonesia Berbasis Genre



Penilaian untuk mengetahui keberhasilan kompetensi pengetahuan (misalnya tentang struktur teks dan kebahasaan) digunakan tes tulis dan tes lisan. Sedangkan untk penilaian kompetensi keterampilan diukur keberhasilannya dengan tes kinerja, penugasan (lisan, tulis, proyek, atau multimodal) dan/atau portofolio. Pelaksanaan penilaian sikap dilakukan dengan lembar pengamatan, lembar penilaian diri, lembar penilaian antarteman, dan jurnal.

Hasil penilaian yang dilakukan oleh guru harus diolah terlebih dahulu sebelum diputuskan sebagai laporan hasil pencapaian kompetensi siswa.

Penilaian merupakan bagian tak terpisahkan dari suatu pembelajaran. Artinya, penilaian harus selalu dilakukan oleh pendidik sebagai bagian dari profesinya. Berdasarkan hasil penilaian inilah, pendidik akan selalu kreatif untuk mencari berbagai strategi baru didalam tindakan mengajarnya. Oleh karena itu, pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang berangkat dari hasil penilaian sebelumnya--sebagai pengalaman awal siswa--bukan dari apa yang seharusnya dipelajari siswa.

Penilaian sikap digunakan sebagai pertimbangan guru dalam mengembangkan karakter peserta didik lebih lanjut sesuai dengan kondisi dan karakteristik peserta didik.


B.      Kontekstualisasi Pembelajaran Sesuai dengan Keunggulan dan Kebutuhan Daerah serta Peserta didik

Kegiatan Pembelajaran pada silabus  dapat disesuaikan dan diperkaya dengan konteks daerah atau sekolah, serta konteks global untuk mencapai kualitas optimal hasil belajar pada peserta didik. Tujuan kontekstualisasi pembelajaran ini adalah agar peserta didik tetap berada pada budayanya, mengenal dan mencintai alam dan sosial di sekitarnya, dengan perspektif global sekaligus menjadi pewaris bangsa sehingga akan menjadi generasi tangguh dan berbudaya Indonesia.    

Sejalan dengan karakteristik pendidikan abad 21 yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi, pembelajaran Bahasa Indonesia dalam Kurikulum 2013 juga memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi sebagai media dan sumber belajar. Pemanfaatan TIK mendorong peserta didik dalam mengembangkan kreativitas dan berinovasi serta meningkatkan pemahaman dan pengetahuan Bahasa Indonesia.


Pembelajaran Bahasa Indonesia memanfaatkan berbagai sumber belajar seperti buku teks yang tersedia dalam bentuk buku guru dan buku siswa. Sesuai dengan Karakteristik Kurikulum 2013, buku teks bukan satu-satunya sumber belajar. Guru dapat menggunakan buku pengayaan atau referensi lainnya dan mengembangkan bahan ajar sendiri seperti LKS (Lembar Kerja Siswa). Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, LKS bukan hanya kumpulan soal.

Download Silabus SMA,MA dan SMK Kurikulum 2013 Revisi Tahun 2016 Semua Mata Pelajaran




Silabus mata pelajaran wajib dan mapel peminatan terbaru atau update tahun 2016/2017 yang tak akan lama lagi kita mulai telah pun di bagikan dalam softcopy, silabus ini merupakan acuan dalam pembuatan RPP.